Seminar Regional Jurusan Pendidikan Luar Biasa

foto narasumber menyampaikan mater pada seminar regionalfoto narasumber dan dekan pada seminar regional  foto seminar regional 1 penampilan band plb seminar regional

Kamis 11 Juni 2015, Jurusan Pendidikan Luar Biasa (PLB) FIP UM mengadakan Seminar Regional dengan tema "Problema Penyelenggaraan Pendidikan ABK Di Sekolah Khusus Dan Sekolah Reguler" yang dihadiri peserta dari Guru SLB dan Sekolah Inklusif se Malang Raya dan mahasiswa. Acara dimulai dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya diiringi bahasa Isyarat yang diperagakan oleh Mahasiswa PLB angkatan 2012 diikuti peserta dan semua yang hadir di Aula FIP Universitas Negeri Malang. Acara dibuka oleh Bapak Prof. Dr. H.Bambang Budi W, M.Pd selaku Dekan Fakultas Ilmu Pendidikan UM, dilanjutkan dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an yang dibacakan oleh mas Karnadi dan pembacaan do'a oleh bapak Arif Fatoni, S.Pd

Sebelum menginjak acara inti, para peserta disajikan hiburan dari Mahasiswa jurusan PLB FIP UM yaitu penampilan Seni Bahasa Isyarat (perpaduan lagu dan iringan bahasa Isyarat) dari M Alfian Firdaus dan Lutfiah Rahmansyah. Tak ikut ketinggalan juga Band dari Jurusan PLB "Speads band" yang dengan kekurangannya mampu menciptakan musik yang sedap untuk didengar seraya membuat semua penonton bertepuk tangan.

Dengan di moderatori bapak Henry Praherdhiono, S.Si, M.Pd acara menjadi semakin mencair dengan selipan kalimat-kalimat lucu seperti " ini baru pertama kali saya perform seperti ini, sebelumnya saya tidak pernah memakai jas dan dasi seperti ini". Tibalah sesi Panelis oleh Dr. Praptono yang menyampaikan materi tentang "Problema pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus". Beliau menggaris bawahi ada dua kompoene penting yaitu kecepatan akses dan kualitas, dan salah satu komponen besar dari kualitas di dunia pendidikan adalah Guru. Dr. Praptono juga mencontohkan negara Firlandia yang mempunyai sumber energi untuk melayani ABK yaitu dengan cara : (1) Anak harus mempunyai mimpi, (2) Persamaan hak pada setiap anak haruslah sama, (3) Bahwa potensi pada diri anaklah yang lebih penting, bukan Rangking ataupun semata-mata mengejar rangking, (4) kebijakan atau keberpihakan,. Tak hanya itu ia juga memaparan motivasi-motivasi kepada calon pendidik dan pendidik yang akan terjun ke dunia SLB ataupun sekolah reguler yang yang menangani ABK.

Bapak Dr. Praptono mengharapkan atau punya keinginan guru pendidikan khusus di seluruh Indonesia nantinya bisa seperti di Jawa Barat yang mendapatkan penghargaan berupa tunjangan tersendiri. Tapi untuk itu Guru Pendidikan Khusus haruslah memiliki latar belakang pendidikan seperti dari lulusan PLB, atau dari program studi reguler yang mengikuti KKT (Kewenangan Kompetensi Tambahan) selama 1 tahun.

Dilanjutkan dengan presentasi oleh Prof. Dr. Mohammad Efendi, M.Pd, M.Kes tentang bagaimana implementasi sekolah inklusif atau berkebutuhan khusus di sekolah normal/reguler. Prof. Dr. Mohammad Efendi, M.Pd, M.Kes menyoroti tentang perbedaan, persamaan dan keberadaan anak berkebutuhan khusus di sekolah-sekolah. Karena sebetulnya secara mental tidak ada perbedaan antara yang normal dengan ABK, maka sekolah dan guru di sekolah reguler hanya perlu memberi layanan/sarana khusus kepada anak ABK. (Imm & EBP)

author